TzV5laRyzIFExM7bghzH2YzXZgfj4xc8paleSd48
Bookmark

Menelusuri Jejak Cahaya di Tanah Sukapura

 Biografi Syekh Alfi Hasan (Uyut Alfi Hasan)

Syekh Alfi Hasan, ulama yang berperan dalam penyebaran islam di wilayah kota Banjar
(Sumber: Foto Istimewa)

Pamarican, Pelajar NU Pamarican 

Di balik kemegahan sejarah Sukapura-Manonjaya dalam kurun waktu 1829–1901, terselip kisah seorang ulama besar yang sosoknya menjadi jembatan antara karamah spiritual dan perjuangan fisik melawan kolonialisme. Beliau adalah Kyai Muhammad Alfi Hasan, atau yang lebih akrab disapa sebagai Syekh Alfi Hasan (Uyut Alfi Hasan).

Akar Sejarah: Sukapura, Mataram, dan Turki

Kehidupan Syekh Alfi Hasan berjalan seiring dengan dinamika administratif wilayah Priangan Timur, yang bermula dari Sukapura (1632–1728), beralih ke Sukapura Manonjaya (1728–1901), hingga kini menjadi Tasikmalaya. Perjalanan hidup beliau berawal dari sang ayah, Syekh Weurga Abdul Hasan, seorang pria keturunan Turki yang berhijrah dari Mataram hingga menetap di Sukapura.

Di tanah Parahyangan ini, Weurga Abdul Hasan mempersunting Nyi Mas Rd. Siti Aminah, seorang putri ningrat yang merupakan keturunan langsung dari Raden Anggadipa II (Tumenggung Wiradadaha III). Dalam sejarah Sukapura, beliau lebih dikenal dengan julukan Dalem Sawidak.

​Julukan 'Sawidak' (enam puluh) ini merujuk pada karamah dan keberkahan beliau yang dikaruniai 60 orang putra. Para putra Dalem Sawidak inilah yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok wilayah Priangan untuk menjadi pemimpin sekaligus pilar penyebaran Islam. Melalui garis ibu inilah, Syekh Alfi Hasan mewarisi sanad kepemimpinan dan dakwah dari trah legendaris penguasa Sukapura. 

Dari perpaduan darah Turki dan trah Dalem Sawidak ini, lahirlah empat bersaudara:

  1.  R. Muhamad Alfi Hasan (Syekh Alfi Hasan)
  2.  Nyi Mas Rd. Siti Eno
  3.  Nyi Mas Rd. Siti Emben
  4. Nyi Mas Rd. Siti Empoh

Keluarga ini menetap di Kalimanggis, Cihanyang, Manonjaya, menciptakan lingkungan masa kecil bagi Alfi Hasan yang sarat akan nilai religius dan kedisiplinan ningrat. 

Perjalanan Ilmu dan Perlawanan terhadap Kolonial

syekh Alfi Hasan adalah seorang pengelana ilmu sejati yang menimba pengetahuan dari pusat-pusat keislaman besar di Cirebon, Banten, Tebu Ireng, hingga Bangkalan, Madura. Namun, jalan dakwahnya bersinggungan langsung dengan tekanan pemerintah kolonial Belanda. Beliau diburu karena dianggap sebagai pemberontak yang mampu menggerakkan massa.

Demi menjaga keselamatan dan keberlangsungan syiar, beliau harus hidup berpindah-pindah (nomaden) hingga ke daerah terpencil. Salah satu tempat persembunyian beliau berada di Cigugur, di mana kini terdapat petilasan beliau (yang sering dianggap makam asli) sebagai saksi bisu masa dakwah beliau di bawah bayang-bayang penjajah. Selain syariat, konon tak jarang dan tak aneh jika beliau membekali santrinya dengan ilmu kebatinan untuk menghadapi kekuatan kolonial.

Sang Guru yang Membangun: Eyang Sawaktu dan Eyang Pangadeg

Dalam untaian silsilah dan sejarah lokal, nama Syekh Alfi Hasan menempati tempat yang mulia. Nama beliau bukan sekedar identitas, melainkan doa dan harapan yang diberikan sang ayahanda,"Alfi" yang berarti seribu dan "Hasan" yang membawa kebaikan.

Kegigihan beliau pula dalam berdakwah meliputi wilayah yang luas, mulai dari Cigugur, Cijulang, Parigi, Pangandaran, hingga Banjar dan Cimaragas. Ketekunannya memunculkan dua julukan penuh hormat dari para santrinya:

  • Eyang Sawaktu: Merujuk pada karamah beliau yang diyakini dapat berada di beberapa tempat berbeda dalam waktu yang bersamaan.
  • Eyang Pangadeg: Berasal dari kata ngadeugkeun (mendirikan), karena di mana pun beliau singgah, beliau selalu mendirikan pesantren sebagai pusat peradaban ilmu.

Penegasan Sejarah: Hubungan dengan Syekh Abdul Muhyi

Penting untuk ditegaskan bahwa Syekh Alfi Hasan dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan adalah dua tokoh yang berbeda. Meskipun sama-sama menjadi pilar Islam di Jawa Barat, keduanya hidup pada masa yang berbeda dan memiliki jalur silsilah yang berbeda pula. Tidak ditemukan catatan hubungan guru-murid secara langsung, namun keduanya diketahui memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat melalui trah Dalem Sawidak. Syekh Alfi Hasan dipandang sebagai tokoh yang melanjutkan estafet perjuangan Islam di wilayah Sukapura setelah era Syekh Abdul Muhyi.

Falsafah Kepemimpinan: "Ratu Babu – Raja Badega"

Beliau meninggalkan warisan karakter kepemimpinan melalui falsafah Sunda: "Ratu Babu – Raja Badega". Ajaran ini menekankan kepemimpinan yang:

  •  Handap Asor: Rendah hati dan tidak sombong.
  •  Ngabdi ka Rahayat: Pemimpin adalah pelayan rakyat.
  •  Mikanyaah ka Balarea: Memiliki kasih sayang kepada masyarakat luas.

Keluarga dan Warisan Keturunan

Dalam hidupnya, Syekh Alfi Hasan didampingi oleh istri tercinta, Nyi Mas Rd. Siti Icih. Terdapat dua catatan mengenai keturunannya; satu sumber penelitian menyebutkan beliau memiliki 5 putra dari istri berbeda yang terkait dengan keluarga Uwa Ajengan Khoer Affandi (Miftahul Huda Pusat) dan ini masih diteliti sampai sekarang, namun sumber utama dari catatan keluarga dan prasasti makam menegaskan adanya 9 putra-putri yang meneruskan keturunan Sukapura, yaitu:

  1. ​R. Muhamad Harif (Putra Pertama).
  2. Nyi Mas Rd. Siti Mariyah.
  3. ​R. Muhamad Karta.
  4. ​R. Muhamad Wiradihardja.
  5. ​R. Muhamad Baridji.
  6. Nyi Mas Rd. Julaeha.
  7. ​Nyi Mas Rd. Sadiah.
  8. ​R. Muhamad Lili KS.
  9. R. Eman S.

Keturunannya tersebar luas hingga ke Cijulang, Pangandaran (seperti Syekh Ahmad dan Syekh Muhammad), hingga Kawasen, Banjarsari. Adapun murid utama beliau yang menonjol adalah Uwa Ajengan Khoer Afandi (santri kesayangan sekaligus kerabat) dan Kyai Mukri (menantu beliau dan pendiri Pesantren Sukahurif).

Akhir Hayat dan Makam yang Terjaga

Pada penghujung tahun 1800-an, beliau berpulang dan dimakamkan di Sukahurif, Kelurahan Situbatu, Kota Banjar, bersandingan dengan makam istrinya. Selama bertahun-tahun keberadaan makam ini sempat dirahasiakan oleh keluarga dan murid utamanya (Uwa Ajengan) demi menjaga kemurnian tauhid masyarakat agar tidak disalahgunakan untuk tujuan kemusyrikan.

​Berdasarkan penuturan lisan Rd. Kusuma Nata Diningrat yang lebih akrab dipanggil pak Kusnadi (buyut dari Syekh Alfi Hasan), Kehadiran Uyut Alfi Hasan diabadikan melalui simbol-simbol fisik di area makamnya. Salah satu yang paling menonjol adalah desain anak tangga yang berjumlah sembilan, yang kemudian terbagi menjadi dua bagian, tujuh anak tangga naik di depan dan dua menurun di dalam. Angka sembilan ini bukanlah sekadar hiasan, melainkan simbol dari sembilan putra-putri beliau yang menjadi penerus perjuangan dakwahnya.

Kini, makam Syekh Alfi Hasan telah dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Walikota Banjar 3 tahun lalu sebagai salah satu makam ulama tertua dan situs wisata religi bersejarah di Kota Banjar. Tempat ini menjadi muara bagi para peziarah yang ingin meneladani semangat perjuangan dan pengabdian sang "Eyang Pangadeg".

(Narasi ini disusun berdasarkan dokumen catatan keluarga, hasil rihlah ziarah mahasiswa INU Ciamis, papan silsilah makam, serta bukti dokumen sejarah Sukapura.)

Kegiatan Rihlah Ziarah Mahasiswa INU Ciamis, Fakultas Dakwah Prodi Bimbingan Konseling Islam dan Manajemen Haji Umrah Semester 1 (Sumber: Mahasiswa INU)  

Posting Komentar

Posting Komentar