![]() |
| Potret saat pengajian berlangsung di mesjid An-namiroh PCNU Ciamis (Sumber: Pelajar IPNU Ciamis) |
Pamarican, Pelajar NU Pamarican
Tradisi keilmuan pesantren kembali dihidupkan oleh pelajar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Ciamis. Melalui kegiatan bertajuk “Ngalogat Risalah Aswaja dan Qanun Asasi”. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Ciamis berupaya menanamkan kembali pemahaman ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah di kalangan kader pelajar.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Harlah IPNU ke-72 dan IPPNU ke-71 tersebut digelar selama tiga hari, Rabu–Jumat (11–13 Maret 2026), di Masjid An-Namirah PCNU Ciamis. Agenda dikemas dalam bentuk pesantren kilat dan ngaji pasaran, dengan menghadirkan kajian kitab secara intensif yang dibimbing oleh K. Ujang Saepudin dan K. Asep Saepul Milah.
Selama tiga hari, para peserta yang merupakan kader IPNU-IPPNU dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis mengikuti proses ngalogat kitab, sebuah metode tradisional pesantren yang menekankan ketelitian membaca, memahami makna, serta menelusuri sanad keilmuan para ulama.
Kitab yang dikaji dalam kegiatan ini adalah Risalah Ahlussunnah wal Jamaah karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Qanun Asasi Nahdlatul Ulama. Kedua kitab tersebut menjadi rujukan penting dalam memahami fondasi akidah, manhaj keagamaan, sekaligus prinsip dasar perjuangan Nahdlatul Ulama.
Dalam kajian tersebut, peserta tidak hanya membaca teks kitab, tetapi juga diajak memahami sejarah lahirnya pemikiran para ulama, nilai-nilai perjuangan Nahdlatul Ulama, serta pentingnya menjaga moderasi beragama di tengah dinamika zaman.
Ketua PC IPNU Ciamis, Irman Muhamad Farhan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam merawat tradisi intelektual ulama sekaligus memperkuat ideologi kader pelajar NU.
“Di tengah arus informasi yang begitu cepat, kader IPNU dan IPPNU harus memiliki pijakan pemahaman keagamaan dan keorganisasian yang kokoh. Kajian kitab ini adalah cara kami menjaga tradisi intelektual ulama salaf, sekaligus memastikan ruh perjuangan Nahdlatul Ulama tetap hidup di kalangan pelajar,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat dari kesungguhan mereka mengikuti setiap sesi kajian hingga selesai. Bagi para pelajar, pengalaman belajar kitab secara langsung bersama para kiai menjadi ruang yang tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga mempererat ikatan kaderisasi.
Salah satu peserta kegiatan, Cahya Irham Nugraha, yang juga menjabat sebagai Ketua IPNU PAC Cihaurbeuti, menilai kegiatan pengajian pasaran tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Melalui pengajian ini, para pelajar bisa menambah wawasan sekaligus memperkuat dasar pemahaman tentang ajaran Aswaja. Hal ini penting agar pelajar memiliki landasan yang jelas dalam memahami ajaran Islam,” ungkapnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak pelajar di berbagai wilayah.
“Kegiatan seperti ini sangat baik jika terus dilaksanakan. Selain menambah ilmu, juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan kaderisasi bagi pelajar NU,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, IPNU dan IPPNU Ciamis berharap tradisi keilmuan seperti ngalogat kitab tidak hanya berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi terus menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan pemikiran pelajar NU ke depan. Dengan demikian, generasi muda Nahdlatul Ulama diharapkan mampu menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sekaligus menghadirkan Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat.



Posting Komentar